Alhamdulillah

Posted on 14.21 In:

Alhamdulillah, itulah ucapan syukur pertama yang aku ucapkan. Ya, menurutku, itulah ucapan syukur yang paling pantas untuk moment-moment menegangkan yang hamper 2 minggu aku lewati. Itulah UAS pertmaku disemester awal aku kuliah. Tegang memang awalnya, namun setelah dilalui ternyata tak jauh berbeda dengan masa-masa SMA dulu. 

Aku sudah berusaha semaksimal mungkin untuk UAS ini. Namun, pada akhirnya aku tetap menyerahkan semuanya pada Allah swt, Tuhan Yang Maha Kuasa dalam segala hal.
Aku yakin Allah tahu yang terbaik untuk ummat-Nya. Apapun hasilnya nanati, akan aku terima dengan keridhoan dan kuanggap sebagai hasil dari usahaku selama ini.

Yang paling penting dalam sebuah usha adalah proses yang kita lalui. Untuk itu, sangat urgen hukumnya kita bersungguh-sungguh dalam menjalankan apa yang ada digenggaman kita, tak peduli itu Sesuatu yang luar biasa atau sesuatu yang biasa sekalipun, karena itu menentukan hasilnya dan secara tidak langsung melatih kedisiplinan kita dalam melakukan segala hal. Hingga akhirnya bila sesuatu yang kita inginkan tak kita dapatkan, setidaknya manfaat dari sebuah proses yang kita lalui telah kitad daptkan. Dan itu pasti berbeda pada setiap individu.

RIEEDDHA

Posted on 21.55 In:

“Ini untukmu, kita bagi dua saja yaa…”. Bujuk seorang anak manis  dengan rambut kuncir kuda pada temannya.
“Terimakasih, aku sayang kamu Sha”. Balas anak lain yang tak kalah manisnya dengan anak berambut kuncir kuda tadi.
“Aku juga Chika”. Balasnya.
Hanya bisa tersenyum saat melihat keakraban dua anak kecil tadi. Sungguh luar biasa persahabatan yang telah mereka jalin sejak kanak-kanak. Jadi teringat persahabatan yang aku jalin dengan ketujuh temanku di SMA. Memang tak selama jalinan persahabatan yang dijalin kedua anak tersebut. Tapi keakraban kami tak bisa dipungkiri lagi.
Masa-masa SMA adalah masa-masa kenakalanku, apalagi saat aku duduk di kelas 1 SMA. Saat itu aku bahkan belum menutup auratku secara keseluruhan. Hanya bila ke sekolah saja aku mengenakan kerudung. Banyak hal tak bermanfaat yang aku lakukan saat itu. Hingga akhirnya sebuah masalah (kecil memang namun mampu membuatku terpuruk saat itu) menuntunku menuju hidayah Allah. Untunglah saat masalah itu hadir, Allah menuntunku pada seorang akhwat sholehah. Dialah Siti Hanifah, aku biasa memanggilnya teh Anif, dialah yang setia mendengarkan masalahku dan sedikit demi sedikit menuntunku pada ketenangan. Saat itu aku telah duduk di kelas 2 SMA Semester 2, sedangkan dia duduk di kelas 3 SMA Semester 2. Perkenalanku dengannya dimulai saat kami sama-sama aktif di kegiatan kerohanian di sekolah.
Aku masih ingat pertama kali aku memutuskan untuk menutup auratku secara keseluruhan. Senin tanggal 26 Oktober, ya,,,saat itu aku mulai menutup auratku secara keseluruhan, tentunya dengan ridho ayah dan ibu. Aku telah berazzam menutup aurat karena Allah, dan akupun harus siap menanggapi perubahan sikap dari keluargaku yang lain serta lingkungan. Tak cukup dalam waktu yang singkat memang. Namun karena didasari dengan azzam yang kuat, akhirnya semua itu dapat kulalui. Tentunya tak lepas dari support orang-orang disekelilingku (Alhamdulillah).
Memang benar, hidayah itu tak cukup  untuk ditunggu, tapi juga harus dijemput. Cara menjemputnya bisa dengan berbagai cara, diantaranya dengan  aktif dalam berbagai kegiatan kerohanian, membaca buku-buku motivasi, dan masih banyak lagi. Senakal-nakalnya dulu, aku tetap aktif dalam berbagai kegitan kerohanian di sekolah, dan itu sangat membuatku nyaman.
Setelah teh Anif lulus SMA, aku benar-benar kehilangan sosok teman berbagi, sosok kakak sekaligus guru yang banyak mengajariku banyak hal. Ya, karena saat itu dia harus melanjutkan pendidikan ke luar kota, dan itu berarti kami tak bisa leluasa lagi untuk bertemu.
Hingga akhirnya aku dipertemukan dengan ketujuh teman dekatku di dalam kegiatan kerohanian yang sama di sekolah (kegiatan ini memeng dikhusukan untuk anak perempuan). Dalam ukhuwah yang terbentuk itulah kami semakin akrab dan mampu saling memahami dalam segala hal. Saking akrabnya, aku bahkan menamakan persahabatan kami dengan memberi nama “RIEEDDHA”. Ya.. RIEEDDHA adalah singkatan dari nama-nama kami. Bila ingat hal itu, aku semakin merindukan mereka, sosok sahabat yang memiliki beberapa karakter. Luar biasa.
Di mulai dari mas`ulah (ketua) ukhty Risma, dialah sosok ketua yang cerdas, aktif dalam berorganisasi, tegas dalam memutuskan segala masalah (pertahankan ya,,, ukhty), ukhty Ilan, sosok akhwat yang pintar, baik, namun dia hobi sekali memperlihatkan wajah cemberutnya, tak peduli saat itu masih pagi (huu…jelek tuh ukhty), untunglah wajahnya manis, jadi tak begitu terlihat buruk (awas jangan GR,,tetep manisan wajah senyummu..hee), berbeda halnya dengan ukhty Echa, dia adalah sosok akhwat yang paling manja diantara kami (ma`lumlah dia memang paling muda diantara kami), saking manjanya (khususnya padaku) dia sering di olok-olok sebagai anakku oleh yang lain (hadooohh). Sosok pemberani, tangguh dan tegas dialah ukhty Elis (bahkan kami sering memnggilnya ukhty preman,,hee,,,maaf ya ukh), ukty lainnya adalah ukhty Dechi, sosok penyabar dan baik namun dia paling lambat diantara kami dalam melakukan sesuatu, hingga terkadang kami memanggilnya “ukhty rempong” (dasar anak-anak SMA…ckckckck…maaf ya ukhty). Selain itu ada ukhty Dilan, dialah sosok paling cuek diantara kami, bahkan dengan urusan penampilannya, maka kami tak pernah terkejut bila bertemu dengannya, pasti dalam kedaan seadanya hingga kerudung pun tak dipedulikannya mau berebentuk bagaimana pun (jangan ditiru ya kawan…heu). Dan yang terakhir adalah ukhty Helen, sosok cerdas yang pandai bernahasa Inggris, aktif dalam berorganisasi dan yang pasti dia adalah sosok penyabar (selalu sabar bila kami mencubit pipinya terus menerus….hee).
Subhanallah, indah memang masa-masa itu, entah kapan itu akan kembali menghiasi hari-hari kami dalam kebersamaan tentunya. Semoga persahabatan kami tetap terjalin hingga ke syurganya. Amiin..
RIEEDDHA (Risma_Ilan_Echa_Elis_Dechi_Dilan_Helen_Azky)-------------


Subang, o6 Januari 2012. Teruntuk para sahabat terindah di bumi Allah, terimakasih telah mengisi hari-hariku..(semua nama sengaja disamarkan)

Posted on 16.54 In:
Bismillah..
Dimanapun kau berada..ingatlah Alloh..
Basahilah wajahmu yang menawan dengan segarnya air wudlu..
Jagalah lisanmu yang indah hanya untuk menyebut namaNYA..
Ghadul basharlah,berikanlah mutiara indah pandanganmu hanya untukku..
Jagalah tanganmu,,jangan biarkan tangan lembutmu tersentuh oleh tajamnya sentuhan iblis..
Bila nanti..
Tiba saatnya..bawalah kabar gembira itu padaku,,
sungguh...ku akan setia menunggumu..
Dasarilah cintamu padaku hanya karena Alloh imamku..

DIA Menyentuhku

Posted on 19.16 In:
Saat ku rasakn keringnya hati....

Saat kurasakan imanku mulai pudar....

DIA menyentuhku dengan cahayaNYA..

S'olah tak membiarkan hambaNYA tersesat...

ASTAGHFIRULLAHALADZIIM. . .

Betapa bdohnya diri ini telah meninggalkan dan menghianatiNYA..

Ya Rabb,Ya mujib..
Betapa malunya aku Ya Rabb. . .
Pantaskah aku mendapatkan kasihMU??

                                                                  Ya Rabb..kini kuserahkan hidup dan matiku padaMU

Bersyukur

Posted on 19.11 In:

Waktu menunjukkan pukul 15.30 wib saat aku sampai di terminal bus, menunggu teman perempuanku yang meminta ditemani ke sebuah acara. Ditengah penantian, banyak hal yang aku dapat, mulai dari bapak tukang baso yang terlihat lelah mendorong gerobaknya yang masih terisi penuh dengan dagangan, padahal waktu sudah menunjukkan senja pada waktu itu.
Apa yang aku dapat dari tukang baso tadi? Ya, kegigihan yang luar biasa dalam berjihad (benar, jihadnya kepala rumah tangga adalah dengan kegigihannya dalam mencari nafkah). Tak habis pikir aku saat itu, seusia beliau yang aku yakin tak muda lagi,  itu terbukti dari kullitnya yang sudah mulai menyusut dan berwarna hitam legam karena sering terbakar sinar matahari, masih begitu semangat berjuang untuk keluarganya tanpa mengeluh. Ah, jadi malu diri yang masih muda ini pun terlalu banyak mengeluh dalam hidup.
Padahal bila dipikir, apa yang harus dikeluhkan lagi, dengan fasilitas dan kenikmatan-kenikmatan yang diberikan Allah untuk kita melalui kasih sayang orang tua kita. Masihkah sanggup kita berpikir bahwa malangnya hidup kita saat ini?? Begitu kufur nikmatnya kita. Astagfirullah.
Tak sampai disitu, kenyataan lain yang aku temui adalah perjuangan yang dilakukan seorang anak untuk menyambung hidupnya. Bila dilihat dari perawakannya, aku yakin dia masih berumur 7 atau 8 tahun. Masyaallah, seusia itu sudah merasakan susahnya hidup dan harus berjuang demi sesuatu yang ia inginkan. Jangankan menginginkan jalan-jalan ke wahana permainan super megah, atau makan di restourant ternama, bermimpi membeli pakaian baru pun mereka tak berani, mengapa? Karena itu hanya sia-sia dan jadi harapan dalam onggokan cerita hidupnya.
Lalu apa yang sekarang bisa kita lakukan?? Mengeluarkan uang bermilyar-milyar untuk memfasilitasi kehidupan mereka?? Apakah kita punya cukup dana sebanyak itu?? Atau mencuri uang para pejabat untuk kemudian dibagikan kepada kaum papa seperti yang dilakukan si Pitung??
Tak perlu bersusah payah melakukan hal itu, untuk saat ini yang bisa kita lakukan adalah bersyukur. Ya, bersyukur dengan apa yang kita dapatkan saat ini.


Ambil Hikmahnya

Posted on 20.28 In:
Hari ini, senja begitu indah menggelayuti tangan sang awan, seakan tak ingin lepas dari genggamannya. Seperti dulu saat usiaku masih kanak-kanak, tak berbeda dengan awan itu. Sungguh indah kisah perjalanan hidup yang telah di atur oleh sang Pencipta. Jadi ingat masa-masa SMP dulu, masa-masa kenakalan yang tak akan terulang, masa-masa dimana sang vmj (virus merah jambu) pertama kali datang mengetuk kemurnianku. Ah... serasa ingin tertawa saja bila mengingat hal itu.
Ya, saat itu aku masih duduk di kelas dua SMP, aku bahkan belum mengenal apa itu cinta, hingga saat aku merasakan begitu mengagumi sosok dewasa yang hadir di sekolah, dialah guru sejarahku. Mungkin kederangannya lucu saat kita menyukai seseorang yang jauh beberapa tahun dari kita, yang kemungkinan dia hanya menganggap kita sebagai adiknya atau bahkan anaknya. Ya ampun!!
Dia sosok dewasa dengan janggut tipis yang menghiasi dagu panjangnya, perawakannya sedang (tak terlalu tinggi juga tak terlalu pendek), badannya pun kurus dan akan melayang bila terkena angin (wealah....tak sedrastis itu sih,hehe), yang pasti dia masih berstatus lajang saat itu. Aku hanya mengaguminya, tak terpikir sedikit pun untuk menjadi istrinya (jelaslah orang masih bau kencur, masa udah mikirin nikah, belajar,belajar!!). Hal itu membuatku benar-benar bingung, hingga akhirnya akupun memutuskan untuk menceritakannya pada salah satu kakak kelasku yang biasa aku panggil Teh Gisha, saat itu dia duduk di kelas tiga SMA. 
"Teh...kenapa ya, setiap deket sama Pak X dadaku selalu berdebar tak karuan, padahal sebelumnya aku sudah makan (lho gak nyambung ya??)"
(Tertawa) "Haahaa...ade, ade, itu teh namanya kamu suka!"
"Iiihhh...gak teteeh, ade gak suka! (masih menyangkal)
Tak sampai disana, karena rasa mengagumi yang besar terhadap guru sejarah itu, aku pun terdorong untuk melakukan yang lebih untuk sang guru (eit,,,dalam hal positif tentunya). Suatu hari aku dan teman dekatku sengaja tak segera pulang setelah pelajaran berakhir, kami duduk-duduk di depan kantor menunggu  guru sejarah itu, berharap dia menghampiri dan mengajak kami mengobrol. Mungkin karena merasa aneh terhadap kami, guru X pun menghampiri kami.
" Belum pulang??"
"Mm..belum Pak." (jawab kami serempak)
"Boleh Bapak minta tolong?"
"Boleh Pak, apa yang bisa kami lakukan??"
"Tolong ya belikan air mineral"
"Oke Paak"
Tak lama kemudian kami pun kembali dengan membawa air mineral disertai sedotan. Segera setelah meminum airnya Pak guru X pergi bergegas pulang dengan motor bututnya, dia pun berpesan kepada kami agar segera pulang. Tinggalah botol air mineral dengan sedotannya dihadapan kami. Saat itu kami saling berpandangan (aku dan temanku), dengan secepat kilat kami berebut sedotan bekas Pak guru X (aduh, aduh, anak-anak). Karena tak ingin terjadi keributan, akhirnya kami pun memutuskan untuk membagi sedotan itu dengan mengguntingnya menjadi dua bagian. Hingga kini barang itu masih tersimpan rapi di kamar di sebuah kotak kecil yang berisi barang-barang yang berhubungan dengannya, dan aku beri nama “Kotak Bersejarah”, karena di dalamnya berisi semua hal tentang guru sejarah itu.
Hari berganti hari, tak disangka ternyata teman-teman sekelasku tahu tentang hal ini (rasa sukaku pada Pak guru X), dan sepertinya Pak guru juga telah mengetahuinya. Ini terbukti dari sikapnya yang selalu menghindar bila bertemu denganku. Aku  kesal saat itu, kesal karena perubahan sikapnya yang tak seramah dulu. Mungkin maksudnya agar aku tak semakin jauh menyukainya. Hal itu wajar,  karena dia memang sosok ikhwan yang sholeh dan sangat menjaga pergaulan dengan lawan jenisnya, namun kepada kami dia sangat ramah, pasti karena dia menganggap kami hanya sebatas muridnya.
Kekesalan itu tak dapat aku sembunyikan, hingga aku mengekspresikannya dengan menggambar sosok ikhwan yang berkopiah dan aku beri nama dengan nama-nama penuh kekesalan (bukan nama-nama hewan lho?!) seperti sebutan “boloho” (ungkapan kekesalan khas dalam bahasa Sunda) dan masih banyak ungkapan-ungkapan yang lainnya yang tak aku ingat lagi. Dan itu aku tulis di buku catatan sejarahku.
Suatu hari Pak guru X masuk ke kelas kami dan mengadakan ulangan untuk kami, dia pun meminta kami untuk mengumpulkan buku sejarah kami di depan. Sekitar satu atau dua jam kami lalui untuk mengisi soal, dan seperti biasa setelah itu kami mengambil kembali buku catatan yang kami kumpulkan di depan. Saat aku mengambil bukuku, tiba-tiba Pak guru X menyampaikan sebuah hadist yang bunyinya kurang lebih seperti ini, “ Janganlah kamu terlalu mencintai sesuatu karena siapa tahu suatu saat kamu akan membencinya, dan janganlah pula kamu terlalu membenci sesuatu karena siapa tahu suatu saat kamu akan menyukainya” (mohon dikoreksi bila ada yang salah yaa...!). aku pun berlalu tanpa tahu apa maksudnya. Setelah itu akau pun membuka buku catatan sejarahku dan tak sengaja terbuka bagian belakang yang berisi curahan hatiku serta gambar ikhwan berkopiah tempo hari, namun ada yang berbeda dari bentuknya... masyaAllah ada coment hadist yang isinya persis seperti yang di sampaikan Pak guru padaku tadi. Betapa malunya aku. Setelah kejadian itu Pak guru X pun bersikap biasa lagi padaku, begitu pun aku.
Sungguh apa yang kita alami dulu adalah bumbu manis di kehidupan kita dan akan menjadi episode pelengkap akhir hayat kita. 


Bandung, 23 Desember 2011, terinspirasi dari cerita sahabat. Syukron ukhty sudah mengijinkan mengangkat cerita hidupmu, maaf ya kalau ada yang di ubah.hehee


Surat Untuk Allah swt

Posted on 05.55 In:
Allah....pemilik hati setiap makhluk, yang menggenggam hidup dan mati, yang kuasa memutuskan segala perkara.
Ya Allah, Tuhanku yang penuh cinta, tahukah Engkau bagaimana perjuanganku memulai hidup di jalan-Mu?? Jalan yang penuh rahmat dan inayah-Mu ini, jalan yang begitu sulit ku tempuh...
Namun,,,,saat aku telah berada di jalan-Mu, terpaan angin dan badai tak lelah menerpa, sehingga tak jarang aku terombang-ambing tak menentu. Tak dipungkiri Ya Rabb, saat itu aku sangat membutuhkan penopang agar tak jatuh aku karenanya.
Dan kini, semua berjalan begitu saja, segala onak bahkan duri seakan terbiasa menemani hidupku. Aku tahu ini adalah salah satu cara-Mu membuatku kuat. Aku pun merasakannya.
Saat ku merasa lelah berada di jalan-Mu ini, Kau kirimkan semangkuk kasih-Mu padaku, sebagai usaha-Mu menguatkanku.
Allah, Tuhan yang tak lelah membantu hamba-Nya, dan yang tak pernah bosan mencintai hamba-Nya dengan sepenuh hati,,
disini....Ya, di dalam hati inilah akan kusimpan cinta dan kasihku untuk-Mu
Jangan pernah bosan dalam mencintaiku, karena kenyataannya aku akan merindukan itu setiap saat.
Ya Allah..kasih sejatiku, 
cukup hanya surat ini yang mampu kuberikan sebagai perantara cintakau pada-Mu..
Namun, suatu saat aku harap aku bisa melihat-Mu.....