Sebait Kisah, SOLO..

Posted on 18.06 In:

“Hmm..”  bergumam di sudut paling belakang tempat duduk bus eksekutif yang membawaku kembali ke temat dimana aku menuntut ilmu, Bandung.
 Hari itu aku, bersama keempat temanku (dua akhwat dan dua ikhwan) baru saja selesai mengikuti agenda tahunan nasional, induk organisasi yang aku ikuti di kampus. Agenda itu mempertemukan kami dengan berbagai mahasiswa di nusantara, subahanallah. Maha Suci Allah yang telah berbaik hati memilihku untuk menjadi salah satu orang yang beruntung itu.
Ya, beruntung, karena agenda itu benar-benar agenda yang membantu terbentuknya para ekonom rabbani.(aamiin..^_^). Agenda olimpiade ekonomi islam nasional. Bila dilihat dari kemampuanku, sungguh jauh dibawah teman-teman yang aku temui di agenda itu, jangankan di agenda itu, di antara anggota organisasi yang aku ikuti pun, aku rasa dibawah mereka. Tapi itulah kuasa Allah, dengan Kemaha Baikkannya, akulah yang Dia pilih (Alhamdulillah Wasyukurillah).
Agenda itu diadakan selama empat hari, dan untuk tahun ini, Solo lah yang terpilih menjadi tuan rumah penyelenggara, tepatnya di Universitas Muhammadiyah Surakarta. Antusias aku mengikuti semua agenda. Walau pada akhirnya kami masih belum diberi kepercayaan oleh Allah untuk menjadi juara nya. Itulah yang terbaik, mengingat persiapan yang kurang, jauh terlambat persiapan dibanding teman-teman yang lain yang telah mempersiapkan jauh-jauh hari, Allah memang Maha Adil, tidak pernah mau mengecewakan hamba-Nya yang berusaha. (eits,, bukan berarti kami tidak beruasaha yaa…)
Solo memang menawan, dengan budaya yang masih terpelihara dengan baik, tata krama orang-orangnya, dan pastinya kuliner yang tak kalah hebat dengan harga yang bersahabat. Hee.. baru kali itu aku merasakan enaknya nasi kucing.(telaat sih sebenarnya, wong yang lain udah pada ngerasain…hiks). Tapi tak apalah, lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali..#apaa
Hikmah yang aku dapat dari agenda ini tentunya banyak sekali. Pengalaman udah pasti, ilmu apalagi, link gak kalah deh. Dan yang paling membuatku tersenyum apabila mengingat agenda itu adalah saat kita semua (dari sabang sampai merauke…#hiperbola) menyanyikan lagu kebangsaan induk organisasi, `Ekonom Rabbani` dari Izzatul Islam. Wah berasa pejuang beneran..
Agenda demi agenda aku lalui dengan kesenangan, hingga akhirnya hari terakhir pun tiba, dengan agenda field trip. Dimulai dari jalan di CFD (Card Free Day) Solo, keliling muter Keraton Solo, sampe di rute terakhir ke Pasar Klewer. Mm..rada trauma kalau inget di Pasar Klewer, punten yaa teteh sayang…J(secret…heeu)
Setelah agenda terakhir itu, kami pulang ke perantauan kami masing-masing. Dan inilah aku saat ini, duduk manis di bangku bus paling belakang yang tempatnya berdekatan dengan WC. Tapi Alhamdulillah tidak bau sama sekali.

 
  @CFD, Solo-field trip


Subuh, pukul 05.20 WIB, aku tiba di kosan tercinta, rehat sejenak, shalat, dan bersiap menghadapi UTS pukul 07.00 WIB. Subhanallah Walhamdulillah..
Semoga menjadi awal menggapai cita…. Especially for my lovely parents, mom and dad, I do Love U very much…

Pemuda Tanggung itu

Posted on 01.40 In:
"Caheum-Cileunyi, Caheum-Cileunyi!" 
Suara teriakan itu berasal dari seorang pemuda tanggung, dengan jaket dan celana jeans seperempat yang terlihat lusuh. 
Segera aku melangkahkan kaki ke dalam sebuah angkutan kota jurusan Cicaheum-Cileunyi, kebetulan saat itu aku baru saja tiba setelah beberapa hari pulang kerumah. 
Tak berapa lama setelah aku duduk, angkot yang aku tumpangi pun mulai bergerak menuju tempat tujuan. Di perjalanan, mataku terfokus pada sosok pemuda tanggung tadi yang sepertinya tak berbeda jauh denganku, sekitar 20 tahun. Sosok pemuda yang bagi sebagian lain tidak ada artinya, seorang pemuda yang mencari uang dengan hanya bermodalkan teriakan dan ajakan untuk mendapatkan seribu dua ribu uang atau bahkan tidak sama sekali. 
Bertolak belakang denganku, saat ini aku duduk dengan nyaman di angkot bukan dengan uang hasil jerih payahku sendiri. Ini adalah hasil keringat ayah, yang setiap hari kulihat wajahnya penuh peluh dengan senyum yang selalu ia berikan kepada kami demi kebahagiaan kami, keluarganya. Tak pernah aku dituntut untuk mencari uang sendiri demi kelangsungan hidupku. 
Di sisi lain aku melihat iklim yang kontras dengan kehidupanku. Aku mengaguminya, sosok yang semangat bekerja walau masih muda, dengan senyum yang selalu ia torehkan kepada siapa saja yang ia temui. Walau pakaiannya lusuh, ia tetap menjaga dirinya, wajahnya bersih tanpa tindikan atau tato yang menghiasi tubuh yang bisa dilakukan beberapa anak-anak jalanan. Sungguh luar biasa perjuangannya. Saat sekarang banyak anak-anak yang menghabiskan uangnya 50-100 ribu dalam beberapa jam hanya untuk membeli sesuatu yang mengenyangkan perut, ia bahkan tak kuasa berharap sesuatu yang lebih dari 10 atau 20 ribu perhari, cukup untuk makan hari itu saja sudah ia syukuri.
Ya Allah, terkadang aku lalai dengan apa yang telah Engkau berikan padaku, sementara dibelahan tempat sana masih banyak saudara-saudaraku yang hidup penuh kekurangan, betapa kufur nikmatnya bila saat ini aku masih berleha-leha dengan nikmat yang Engkau beri tanpa ada tindakan yang berarti untuk mereka.




Sunday, February 10th 2013 at public vehicle

Kekuatan Itu Bernama Mimpi

Posted on 01.06 In:
Embun pagi menyapa dengan senyuman indahnya
Menyapa diri yang penuh dengan untaian harap
Tertuang indah di lembaran putih yang semakin lusuh
Diwarnai tinta hitam

Ingin raga ini segera berlari
Namun angin menahannya
seolah tak rela bila raga ini hanya mampu berlari
tanpa bisa membawa nafas-nafas kehidupan

dan kini angin itu mampu memberi kesejukan
Dikala raga berhias peluh duniawi
Angin itu pun terus memberi kesejukan dan menuntunnya
tuk merasakan manisnya proses

Proses mengubah tinta hitam menjadi tinta emas
yang tertuang di lembaran putih yang lusuh
untaian-untaian harap itu kini menggeliat satu persatu
Menunjukkan sayapnya yang siap dikepakkan

Daun-daun pun hanya tersenyum
sambil sesekali melambaikan kelopaknya
seolah ingin berkata
Tulislah mimpimu dan wujudkan!








Especially for my friends who always spirit to realize their hope...Hope Allah always keep our faith..

Posted on 04.17 In:
Mutiara Retak Itu
Mutiara retak itu tergopoh...
Merangkak...mencoba meraih air di dasar laut
Di sepanjang pasir nan putih

Mutiara retak itu terus berputar
Tak peduli raganya terus meronta
Ia terus berlari
Mengejar asa yang tak kunjung menyapa

Ia terus berlari tanpa henti
Sampai raganya bersua asa
Hingga ia dapat melukisnya di atas air kehidupan....